Make your own free website on Tripod.com

Satu Hembusan Nafas Anda, Lebih Berharga dari Emas

Mabuk Dalam Cinta Terhadap Allah

Why Science fails to explain God

Petunjuk Yang Maha Agung

Bila Rasulullah S.A.W Menjenguk Kita

Bismillah, Menambah Bobot Kemuliaan Hidup

Hukum Merayakan Hari Valentine

Kisah Lima Perkara

MENEBAR PESONA ISLAM

SEMUANYA BERMULA DARI KATA-KATA 

SEMUANYA BERMULA DARI KATA-KATA 

Hanya sepatah kata, bisa mengubah keadaan secara strategis. Maka hati-hatilah

Sembari meneguk teh hangat yang disediakan istrinya, seperti biasa Pak Banu mulai bercerita, “Payah aku menghadapi tingkah si Haris itu. Mentang-mentang titelnya insinyur, sukanya selalu menentang pendapatku”. Dalam benak Bu Banu, segera terbayang sosok Bu Haris, yang usaha cateringnya katanya laris, padahal menurutnya masakan Bu Haris kurang sedap.

“Memangnya ada masalah apa lagi?” Tanya Bu Banu antusias. “Kali ini ia menentang ideku untuk mengadakan wisata ke Bali bagi guru-guru di akhir tahun. Padahal dia kan baru dua cawu mengajar di sekolah, berani-beraninya meremehkan aku yang sudah empat tahun jadi kepala sekolah.” sungut Pak Banu kesal.

“Orang seperti itu kok didengarkan. Dia itu sama saja dengan istrinya. Kalau bicara sok tinggi sekali,” timpal Bu Banu sambil tak lupa meyorongkan bibirnya. “Masalahnya ada banyak guru yang mendukung pendapatnya,” suara Pak Banu terdengar ragu-ragu. Dengan sinis istrinya pun berkomentar, “Ah, gitu aja kok repot. Bikin langsung saja kepanitiaan, nggak usah nanya-nanya pendapat lagi. Kalau dia masih protes, singkirkan saja. Itu kan hak Bapak.” Mendengar saran istrinya itu, Pak Banu tercenung, dan sebentar kemudian mengembang senyum di sudut bibirnya.

Hati-hati Berkomentar

Bagaimana pendapat Anda jika ternyata Pak Banu benar-benar menjalankan saran istrinya itu? Barangkali akan terjadi peristiwa besar yang di luar perkiraannya. Bisa jadi guru-guru lain menjadi tak puas, lalu berdemo, menuntut mundurnya Pak Banu, atau mogok mengajar, atau bahkan sampai ke meja hijau? Di jaman reformasi seperti ini, resiko-resiko semacam itu sudah bukan barang langka lagi.

Jika akibat buruk yang akhirnya menimpa Pak Banu, maka tinggal kekecewaanlah yang terus menerus menggantung dan mewarnai kehidupannya selanjutnya. Padahal awal persoalannya hanya dari sentilan komentar Bu Banu yang sedang emosi. Hanya sebuah kalimat, yang mampu mengubah seratus delapan puluh derajat warna kehidupan keluarga Pak Banu.

Tepat sekali sebuah sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Sesungguhnya adakalanya seorang hamba mengatakan satu kalimat yang tidak diperhatikan, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh dari antara Timur dan Barat.” (HR Bukhari, Muslim)

Sebuah komentar, nampaknya memang sangat sepele. Tetapi bisa mengakibatkan kejadian luar biasa yang sangat tidak diharapkan. Itu sebabnya, janganlah seorang istri ataupun suami, memberi komentar sembarangan, tanpa dipikir baik-baik, apalagi dalam keadaan emosi, ketika menanggapi masalah yang diceritakan pasangannya.

Suatu ketika, saat Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan Aisyah ra, beliau menceritakan serta menyanjung-nyanjung tentang kebaikan-kebaikan istri pertamanya, Khadijah. Kebetulan, kondisi emosi Aisyah sedang kurang stabil, sehingga timbul perasaan irinya mendengar sanjungan-sanjungan suaminya itu. Maka keluarlah komentar pedas dari mulutnya, yang intinya mengingatkan Rasulullah untuk tak selalu mengingat-ingat nenek tua tersebut, karena Allah telah menggantikan bagi Rasulullah dirinya yang masih gadis, muda dan cantik.

Sungguh tak disangka, Rasulullah begitu tersinggung dengan komentar yang diucapkan Aisyah tersebut. Dengan nada tinggi Rasulullah menyalahkan Aisyah tentang ucapannya yang tak pantas itu, padahal hampir-hampir tak pernah beliau menunjukkan kemarahan besar seperti itu. Mendengar itu Aisyah ketakutan dan segera sadar akan kesalahannya. Sejak saat itu, dia sangat berhati-hati menjaga lidahnya jika sedang membicarakan tentang Khadijah. Dia sungguh tak ingin terpeleset lidah kembali dengan mengucap komentar yang tak pantas sehingga menimbulkan kemarahan nabiyullah saw.

Pengaruhnya Sangat Besar

Tak dapat dipungkiri, bahwa ternyata ucapan dan pendapat istri atau suami di rumah, ternyata bisa sangat besar pengaruhnya terhadap keputusan yang diambil seseorang.

Seorang istri bisa jadi akan membenci baju warna hijau selamanya, ketika suatu waktu suaminya berkomentar kecewa melihat kerudung hijau yang dibeli istri di arisan. “Ya...kok hijau?” Mungkin, suami tak bermaksud menunjukkan ketidaksukaannya terhadap warna hijau, tetapi hanya igin mengingatkan, bahwa sudah banyak kerudung milik sang istri yang berwarna hijau, mengapa tidak memilih warna lain? Tetapi komentar singkat itu begitu membekas dalam hati istri, sehingga sejak saat itu ia tak lagi pernah memilih baju, tas, atau barang apa saja yang berwarna hijau.

Para ummahatul mukminin telah mencontohkan, bagaimana mereka berusaha berhati-hati menjaga lidahnya dalam memberi komentar atas perkataan-perkataan Nabi. Ketika Muhammad pulang dari gua Hira' setelah mendapat wahyu yang pertama, beliau dalam keadaan sangat ketakutan, mirip seperti orang yang tak waras. Begitu sampai di rumah, beliau menceritakan kisah pertemuannya dengan sosok ghaib yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Khadijah yang bijaksana membiarkan suaminya menceritakan apa yang terjadi dan mendengarkan dengan seksama. Khadijah tidak memotong perkataan suaminya dan tidak gegabah memberi komentar. Setelah usai suaminya berkisah, barulah dengan tenang istri mulia ini memberi komentar yang menyejukkan, “Bergembiralah engkau, wahai putra pamanku, dan teguhkanlah hatimu. Demi Tuhan yang diriku berada dalam kekuasaanNya, aku berharap engkau menjadi seorang nabi bagi umat ini.”

Mendengar komentar istrinya itu, Rasulullah merasa seakan hatinya yang panas mendapat siraman air dingin, sehingga terasa sejuk kembali. Iapun segera merasa tenang dan bisa tertidur dengan lelap karena kecapaian.

Atau seperti Ummu Salamah, yang memberi komentar menyejukkan ketika Rasulullah saw mengeluh kepadanya tentang perilaku sahabat-sahabat beliau yang menentang kebijakannya menandatangani perjanjian Hudaibiyah, dan tak ada yang mau diajak membatalkan rencana haji. Maka Ummu Salamah, sang istri, pun berkomentar, “Ya, Rasulullah, maukah Anda berbuat begini? Rasulullah keluar, kemudian jangan berbicara dengan seorangpun di antara mereka, sampai ke tempat hewan, lalu Rasulullah sembelih sendiri unta itu, lalu panggil tukang cukur dan mencukurkan rambut?” Setelah Rasulullah mengiyakan komentar istrinya itu, terbukti kemudian seluruh sahabat pun bersedia mengikuti perbuatan beliau.

 

Please report any problems on this site to webmaster@smkn1cmi.org
© 2000 Sekolah Teknik Menengah Negeri Pembangunan ( SMK Negeri 1 Cimahi  ) .

All rights reserved  SMK Negeri 1 Cimahi  Webmaster Team 2000

" Kekerasan Hanya Membuat Masalah, Kekerasan Hanya Membuat Sengsara, Stop Kekerasan Sekarang Juga "

-- Yang Ada di Situs ini --

--Pembangunan  MailingList--

Masukan Email Anda, Untuk Mengikuti Mailing List STMN Pembangunan Lalu Klik gambar di samping ini !

-- Pembangunan Network --

-Situs Warga  Pembangunan-

This Website is designed for
Microsoft Internet Explorer 4.0 or later.
If you are not using Internet Explorer 4.0 please install from Microsoft Corp.